Bab I
Pendahuluan
1.1
Latar Belakang
Sastra adalah sesuatu yang indah, bagus, baik. Jika kita
mempelajari tentang sastra berarti hal pertama yang perlu kita ketahui yaitu
mengenai sastra itu sendiri, asal muasal sebuah sastra hingga muncul sejarah
mengenai sastra yang didalamnya banyak bermunculan teori-teori mengenai sastra
itu sendiri.
Sastra dibagi dua macam, ada sastra tertulis dan sastra
lisan. sastra tertulis yang tak terlepas dari yang namanya sebuah teks.
Kumpulan-kumpulan dari sebuah tulisan disebut teks,teks ini beragam macamnya
dan memiliki sejarahnya sendiri, bagaimana sebuah teks itu tercipta,siapa
penemu teks,permasalahan apa yang timbul ketika sebuah teks itu
diciptakan,Kesalahan-kesalahan pada teks, alasan teks sering di revisi hingga
bemunculan teori-teori baru mengenai teks. Pada kali ini akan dibahas mengenai
sebuah teks dalam karya sastra sebagai variabel model semiotik.
1.2
Rumusan Masalah
1. Mengetahui
kemantapan sebuah teks.
2. Bahwa
filologi atau tekstologi sebagai studi sejarah teks.
3. Tekstologi
sebagai buku cetakan.
4. Mengetahui
sebab- musabab teks cetakan tidak mantap.
5. Mengetahui
sejarah singkat tekstologi naskah.
6. Masuknya
folologi di Indonesia.
7. Mengapa
ditemukan kritik terhadap filologi tradisional khususnya metode stemma.
8. Beberapa
contoh variasi naskah berkaitan dengan korupsi atau kreasi.
1.3
Tujuan
Makalah ini bertujuan agar pembaca mengerti dan memahami
tentang sejarah singkat sebuah teks beserta permasalahannya dari segi manapun
selain itu pembaca juga dapat menambah wawasannya mengenai satra dalam hal ini
mengupas lebih luas lagi mengenai teks sastra sebagai variabel dalam model
semiotik.
Bab II
Pembahasan
- Kemantapan Sebuah Teks
Sebuah teks akan lebih sempurna jika didalamnya memiliki
beberapa unsur, diantaranya :
·
Teks yang berpangkal pada sebuah gagasan yaitu
bahwa teks karya sastra adalah sesuatu yang konstan, mantap, tidak berubah
sepanjang masa sesuai dengan ciptaan penulis.
·
Di lihat dari strukturnya karya saatra menurut
aksioma sastra dan ilmu sastra, setidaknya di barat adalah sesuatu yang utuh
bulat, yang bagian-bagian dan anasir-anasirnya ikut menentukan makna
keseluruhannya dan sebaliknya oleh makna keseluruhan teks itu fungsi dan
maknanya masing-masing di tentukan.
Pada umumnya teks manapun tidak luput dari proses perubahan,
perusakan, penyesuaian,perkembangan, dan pembaharuan. Bahkan sulit untuk
mempertahankan secara utuh bentuk asli sebuah teks yang ingin di salin. Contoh
pada kitab Injil dan Al Quran.
Jadi satu sisi karya sastra berpangkal pada sebagian struktur
yang utuh, bulat, dan mantap tapi sisi lain kita menghadapi kenyataan bahwa
teks manapun cenderung berubah dan tidak stabil wujudnya sepanjang masa.
Itulah sebabnya karya sastra sebagai variabel dengan
konsekwensinya untuk fungsi karya sastra sebagai tanda dalam model semiotik
dalam hubungannya dengan peranan penulis dan pembacaan serta faktor lain yang
releven.
- Filologi atau Tekstologi Sebagai Studi Sejarah Teks
Secara tradisional masalah-masalah variasi teks menjadi objek
studi cabang ilmu sastra yang disebut filologi. Tentang sejarah filologi, namun
di sini perlu disebutkan bahwa istilah filologi pada masa modern sangat
membingungkan. Oleh karena itu istilah filologi mempunyai banyak arti yang jauh
berbeda satu dengan yang lainnya.
Dalam peristilahan di terangkan bahwa naskah akan dipakai
dalam arti manuskrip dan tulisan tangan yang dikenal dalam dua istilah yaitu
versi dan teks. Versi yang berarti wujud dari sebuah karya sedangkan teks
dipakai secara umum untuk wujud sebuah tulisan.
Kemudian ada pula contoh dalam sejarah sastra tentang sebuah
teks yang terkandung dalam naskah tulisan, kemudian mulai diceritakan secara
lisan, tanpa atau dengan memanfaatkan naskah. Disamping pembauran ragam
tekstologi ada pula berbagai bentuk turunan teks modern yang tidak jelas masuk
tiga ragam tersebut, misalnya stensial, fotocopy, rekaman dan lain-lain.
- Tekstologi Sebagai Buku Cetakan
Dalam tradisi kebudayaan barat seorang Jerman yang bernama
Gutenberg termasyhur sebagai penemu seni cetak, pada sekitar tahun 1450.
Sebenarnya dia bukan orang pertama yang menemukan teknik untuk mencetak huruf,
tidak hanya di Cina keahlian ini sudah lama sebelumnya dikembangkan, melainkan
di barat sendiri kepandaian itu sudah lebih dulu diketahui orang. Gutenberg
pulalah yang menemukan cara mencetak dengan huruf lepas, satu demi satu dan dia
berhasil menciptakan tinta yang baik yang dipakai untuk pencetakan yang berbeda
dengan tinta tulis yang sudah lama yang diketahui cara pembuatannya, sehingga
sejak pertengahan abad ke 15 buku cetakan mulai membudaya di Eropa Barat.
Seiring berkembangnya teknologi pencetakan banyak mengalami
perbaikan. Banyak faktor yang mengakibatkan perubahan teks cetakan salah
satunya perubahan yang tak di sengaja, yang terjadi karena salah cetak dalam
edisi yang berturut-turut. Contoh dari puisi Indonesia misalnya dalam beberapa
edisi Deru Campur Debu dicetak bukan segera melainkan segara sudah tentu ini menimbulkan perbedaan penafsiran yang cukup
besar.
- Sebab Musabab Teks Cetakan Tidak Mantap
Dalam sebuah teks cetakan tidak selamanya bernilai baik
ataupun sempurna tapi sering kali ditemukan
beberapa kesalahan dalam pencetakan. Dan yang jauh lebih penting daripada
salah cetak yang tak disengaja adalah perubahan yang ada dalam sebuah teks
secara disengaja. Keduanya dapat dibedakan dalam beberapa hal diantaranya :
a.
Perubahan mungkin terjadi dalam hal
transliterasi dari satu sistem tulisan ke sistem lain.
b.
Kemungkinan lain adalah penggarapan kembali
sebuah teks yang sudah di cetak oleh pengarang, misalnya tidak merasa puas lagi
dengan ciptaanya, yang ingin menyesuaikan dengan perkembangan adanya atau yang mau menanggapi reaksi pembaca.
c.
Ada kalanya sebuah teks cetakan diubah atas
anjuran atau petunjuk penerbit atau seorang penyunting.
d.
Ada juga sebuah teks cetakan diubah karena
campur tangan sensor atau pembesar, dengan alasan politik, moralis dan
lain-lain.
e.
Perubahan teks cetakan berikutnya banyak
disebabkan karena tujuan tertentu, misalnya sebuah karya sastra disesuaikan
untuk pemakaian disekolah.
- Tekstologi Naskah
: Sedikit Sejarahnya
Hal ini sangat relevan sekali, khususnya dalam situasi sastra
Indonesia, untuk tekstologi naskah, jadi folologi dalam arti klasik. Folologi
ini di Barat mulai berkembang pada zaman humanisme disebut Petrarca (1304-1374)
dan diakhir masa humanisme disebut Erasmus (1466-1536). Humanisme sangat aktif
berusaha untuk menemukan kembali tradisi sastra klasik yang asli, yang selama
beberapa abad di Barat praktis hilang.
Tradisi Yunani selama abad pertengahan praktis sama sekali
hilang di Eropa Barat,tetapi digali kembali lewat sumber dalam bahasa Arab,
tetapi yang nyata pula bagi mereka, makin banyak naskah yang ditemukan,makin besar
pula variasi dalam teks yang ingin diketahui bentuk aslinya oleh para humanis.
Tugas itu mereka laksanakan dengan hasil yang sangat mengagumkan,
sehingga,berkat kemungkinan mencetak yang makin dikembangkan sejak pertengahan
abad ke 15.
Pada abad ke 19 para filologi mulai mengembangkan metode
filologi yang sungguh bersifat ilmiah karena ini zaman perkembangan ilmu
pengetahuan yang modern, dengan minat pada fakta-fakta dan pembuktian ilmiah
yang dalam ilmu-ilmu eksakta memberikan hasil yang demikian yang meyakinkan.
Metode yang dikembangkan dalam filologi oleh Lachmann dan beberapa tokoh
lainnya berpangkal pada hipotesis bahwa sebuah teks pernah tercipta dalam
bentuk asli yang unik dan murni.
- Filologi Di Indonesia
Filologi pada abad ke 19 membawa hasil yang sangat
mengesankan,edisi teks klasik juga teks abad pertengahan Eropa Barat misalnya,
Jerman kuno, Inggris kuno dan lain-lain. Dalam filologi Indonesia metode
Lachmann jarang diterapkan secara tepat dalam filologi Jawa, khususnya Gonda,
mulai menerapkan metode ini dengan edisi Brahmanda Parana (1932).
Pada umunya para filologi yang menerbitkan teks Indonesia
biasanya masih memakai metode filologi
prailmiah, dengan intuisi dan pengetahuan bahasa yang sebaik mungkin biasanya
sebuah naskah dipakai sebagai legger, dasar edisi yang kemudian seperlunya
diperbaiki berdasarkan perbandingan dengan naskah lain.
- Kritik Terhadap Filologi Tradisional, Khususnya Metode
Stemma
Filologi tradisional, khususnya yang berpretensi ilmiah
dengan metode stemma, memperlihatkan pendekatan terhadap teks yang menekankan
aspek ekspresif, mereka terutama ingin tahu niat penulis asli dan ingin
memulihkan teks dalam bentuk yang diciptakan dan dimaksudkan oleh penulis asli.
Satu prinsip utama metode stemma ialah adanya satu teks purba
yang asli dan utuh, yang ditulis oleh seorang penulis. Prinsip ini dapat
dipahami pentingnya bagi orang yang ingin mengetahui bagaimana tulisan
Aristoteles, Homeros atau Vergilius yang asli atau bagaimana firman Tuhan yang
diturunkan kepada umat manusia lewat nabinya.
Hipotesis kedua yang menyadari metode stemma mengandaikan
tidak ada kontaminasi pembauran naskah, menurut hipotesis ini naskah hanya
diturunkan secara vertical dari naskah
yang merupakan induknya, tanpa dicampur dengan teks yang terdapat dalam naskah
lain, jadi tanpa pembauran horizontal.
Prinsip ketiga yang melandasi metode stemma pun ternyata
tidak mutlak, malahan sering sangat meruwetkan. Yang dimaksudkan adalah prinsip
“kesalahan bersama” pokoknya sering sukar sekali, kalau tidak mustahil, untuk
mengatakan di antara dua varian mana
yang salah , mana yang benar. Itulah kritik yang dilontarkan oleh Kratz
terhadap teks Hikayat Muhammad Hanafiyyah sebagaimana disunting oleh Brakel,
yang di anggapnya sebuah teks hibridis, naskah campuran yang pada prinsipnya
tidak lebih baik daripada naskah Melayu yang dipakai oleh Brakel (Kratz,
1978,1981). Bagi Kratz konsekuensi untuk filologi Melayu jelaslah :
“Jadi, pada tingkat sekarang penyuntingan sejumlah naskah
yang kecil, dengan deskripsi yang lengkap, aparatus kritikus yang layak dan
bahan penyerta seperti misalnya konkordansi harus didahulukan daripada
konstruksi teks yang menjadi gado-gado beberapa naskah dengan deskripsi yang
selektif…. Sebab pada dasarnya naskah biasanya adalah saksi dengan wibawa
sendiri dari sebuah tradisi yang khas dan karena itu tidak pantas
dicampurtangani secara semau-maunya).
- Variasi Naskah : Korupsi atau Kreasi
Dalam kalimat terakhir ini terungkap aspek lain dari
pergeseran minat dalam filologi modern, mungkin keberatan utama terhadap metode
ini menurut pendekatan modern justrulah tekanan pada teks asli sebagai tujuan
utama penelitian filologi. Dalam pendekatan lama segala sesuatu dalam sebuah naskah yang menyimpang dari teks yang
dianggap asli dipandang sebagai korupsi yang oleh filolog harus disingkirkan.
Tetapi dalam filologi modern variasi naskah justru sering kali dilihat sebagai
kreasi, yaitu teks disesuaikan oleh penyalin dengan perubahan dalam lingkungan
sosio-budaya dimana salinan itu harus berfungsi menurut harapan pembaca yang
menjadi sasaran naskah baru itu.
Contoh semacam ini masih banyak diberikan, sebagai kasus
lain yang cukup menarik dapat disebutkan
diskusi ilmiah mengenai penafsiran versi babad-babad Jawa yang berbeda-beda,
yang beberapa tahun lalu diadakan antara Ricklefs dan Day (Day, 1978 ;
Ricklefs, 1979 ). Ricklefs berpendapat selalu ingin menelusuri bentuk asli
cerita-cerita sejarah yang terkandung dalam berbagai versi babad, yang ingin
dia telusuri mana versi yang tertua atau asli, mana versi yang purba. Sedangkan
Anthony Day mendekati variasi teks babad dengan pandangan yang lain sekali, dia
lebih optimis menekankan nilai positif variasi babad sebagai kreasi. Ia juga
berpendapat bahwa setiap babad mewujudkan teks baru, yang diciptakan oleh
seorang penyalin atau pujangga yang sedikit banyaknya kreatif
Di sini bukanlah masalah siapa yang benar dan siapa yang
salah, Ricklefs atau Day. Yang terpenting untuk pembicaraan justru dua visi
tentang variasi teks sebagai sesuatu yang di temukan dalam sejarah teks manapun.
Bab III
Penutup
Kesimpulan
Dari penjelasan
mengenai teks sastra sebagai variabel dalam model semiotic dapat disimpulkan
bahwa :
- Pertama, bahwa dengan pendekatan modern, janganlah menganggap bahwa metode lama sam sekali tidak bermanfaat lagi. Karena untuk teks tertentu, dengan tujuan tertentu metode stemma masih tetap digunakan dan bermanfaat dengan hasil yang baik.
- Kedua, Bahwa kesetiaan penyalin pada induknya tidak sama untuk berbagai jenis dan ragam teks.
- Ketiga, Tidak semua nskah yang ada misalnya dari teks Indonesia tradisional sebagai sumber pengetahuan karya sastra, karena masih banyak ditemukan kesalahan-kesalahan serta penyimpangan yang terjadi seperti salah cetak, revisi ulang terhadap teks oleh penulis,adanya campur tangan pihak lain untuk mengubah teks cetakan untuk tujuan tertentu.
- Di Indonesia sendiri maslah tekstologi untuk sastra tradisional tidak terlepas dari masalah sastra lisan.Karena memiliki relevansi yang sangat kuat antara sastra lisan dansastra tulis yang dipengaruhi oleh tradisi sastra lisan danfungsi sastra sebagai performing art.
Daftar Pustaka
A.Theeow,
Sastera dan Ilmu Sastera,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar