Senin, 04 November 2013

Makalah Teks Karya Sastra Sebagai Variabel Model Semiotik

Bab I
Pendahuluan

1.1              Latar Belakang
Sastra adalah sesuatu yang indah, bagus, baik. Jika kita mempelajari tentang sastra berarti hal pertama yang perlu kita ketahui yaitu mengenai sastra itu sendiri, asal muasal sebuah sastra hingga muncul sejarah mengenai sastra yang didalamnya banyak bermunculan teori-teori mengenai sastra itu sendiri.
Sastra dibagi dua macam, ada sastra tertulis dan sastra lisan. sastra tertulis yang tak terlepas dari yang namanya sebuah teks. Kumpulan-kumpulan dari sebuah tulisan disebut teks,teks ini beragam macamnya dan memiliki sejarahnya sendiri, bagaimana sebuah teks itu tercipta,siapa penemu teks,permasalahan apa yang timbul ketika sebuah teks itu diciptakan,Kesalahan-kesalahan pada teks, alasan teks sering di revisi hingga bemunculan teori-teori baru mengenai teks. Pada kali ini akan dibahas mengenai sebuah teks dalam karya sastra sebagai variabel model semiotik.
                                                                          
1.2              Rumusan Masalah
1.       Mengetahui kemantapan sebuah teks.
2.       Bahwa filologi atau tekstologi sebagai studi sejarah teks.
3.       Tekstologi sebagai buku cetakan.
4.       Mengetahui sebab- musabab teks cetakan tidak mantap.
5.       Mengetahui sejarah singkat tekstologi naskah.
6.       Masuknya folologi di Indonesia.
7.  Mengapa ditemukan kritik terhadap filologi tradisional khususnya metode stemma.          
8.       Beberapa contoh variasi naskah berkaitan dengan korupsi atau kreasi.

1.3              Tujuan
Makalah ini bertujuan agar pembaca mengerti dan memahami tentang sejarah singkat sebuah teks beserta permasalahannya dari segi manapun selain itu pembaca juga dapat menambah wawasannya mengenai satra dalam hal ini mengupas lebih luas lagi mengenai teks sastra sebagai variabel dalam model semiotik.
                                                                           


Bab II
Pembahasan

  1. Kemantapan Sebuah Teks
Sebuah teks akan lebih sempurna jika didalamnya memiliki beberapa unsur, diantaranya :
·         Teks yang berpangkal pada sebuah gagasan yaitu bahwa teks karya sastra adalah sesuatu yang konstan, mantap, tidak berubah sepanjang masa sesuai dengan ciptaan penulis.
·         Di lihat dari strukturnya karya saatra menurut aksioma sastra dan ilmu sastra, setidaknya di barat adalah sesuatu yang utuh bulat, yang bagian-bagian dan anasir-anasirnya ikut menentukan makna keseluruhannya dan sebaliknya oleh makna keseluruhan teks itu fungsi dan maknanya masing-masing di tentukan.
Pada umumnya teks manapun tidak luput dari proses perubahan, perusakan, penyesuaian,perkembangan, dan pembaharuan. Bahkan sulit untuk mempertahankan secara utuh bentuk asli sebuah teks yang ingin di salin. Contoh pada kitab Injil dan Al Quran.
Jadi satu sisi karya sastra berpangkal pada sebagian struktur yang utuh, bulat, dan mantap tapi sisi lain kita menghadapi kenyataan bahwa teks manapun cenderung berubah dan tidak stabil wujudnya sepanjang masa.
Itulah sebabnya karya sastra sebagai variabel dengan konsekwensinya untuk fungsi karya sastra sebagai tanda dalam model semiotik dalam hubungannya dengan peranan penulis dan pembacaan serta faktor lain yang releven.
                                                                                

  1. Filologi atau Tekstologi Sebagai Studi Sejarah Teks
Secara tradisional masalah-masalah variasi teks menjadi objek studi cabang ilmu sastra yang disebut filologi. Tentang sejarah filologi, namun di sini perlu disebutkan bahwa istilah filologi pada masa modern sangat membingungkan. Oleh karena itu istilah filologi mempunyai banyak arti yang jauh berbeda satu dengan yang lainnya.
Dalam peristilahan di terangkan bahwa naskah akan dipakai dalam arti manuskrip dan tulisan tangan yang dikenal dalam dua istilah yaitu versi dan teks. Versi yang berarti wujud dari sebuah karya sedangkan teks dipakai secara umum untuk wujud sebuah tulisan.
Kemudian ada pula contoh dalam sejarah sastra tentang sebuah teks yang terkandung dalam naskah tulisan, kemudian mulai diceritakan secara lisan, tanpa atau dengan memanfaatkan naskah. Disamping pembauran ragam tekstologi ada pula berbagai bentuk turunan teks modern yang tidak jelas masuk tiga ragam tersebut, misalnya stensial, fotocopy, rekaman dan lain-lain.
                             
  1. Tekstologi Sebagai Buku Cetakan
Dalam tradisi kebudayaan barat seorang Jerman yang bernama Gutenberg termasyhur sebagai penemu seni cetak, pada sekitar tahun 1450. Sebenarnya dia bukan orang pertama yang menemukan teknik untuk mencetak huruf, tidak hanya di Cina keahlian ini sudah lama sebelumnya dikembangkan, melainkan di barat sendiri kepandaian itu sudah lebih dulu diketahui orang. Gutenberg pulalah yang menemukan cara mencetak dengan huruf lepas, satu demi satu dan dia berhasil menciptakan tinta yang baik yang dipakai untuk pencetakan yang berbeda dengan tinta tulis yang sudah lama yang diketahui cara pembuatannya, sehingga sejak pertengahan abad ke 15 buku cetakan mulai membudaya di Eropa Barat.
Seiring berkembangnya teknologi pencetakan banyak mengalami perbaikan. Banyak faktor yang mengakibatkan perubahan teks cetakan salah satunya perubahan yang tak di sengaja, yang terjadi karena salah cetak dalam edisi yang berturut-turut. Contoh dari puisi Indonesia misalnya dalam beberapa edisi Deru Campur Debu dicetak bukan segera melainkan segara sudah tentu ini menimbulkan perbedaan penafsiran yang cukup besar.

  1. Sebab Musabab Teks Cetakan Tidak Mantap
Dalam sebuah teks cetakan tidak selamanya bernilai baik ataupun sempurna tapi sering kali ditemukan  beberapa kesalahan dalam pencetakan. Dan yang jauh lebih penting daripada salah cetak yang tak disengaja adalah perubahan yang ada dalam sebuah teks secara disengaja. Keduanya dapat dibedakan dalam beberapa hal diantaranya :
a.       Perubahan mungkin terjadi dalam hal transliterasi dari satu sistem tulisan ke sistem lain.
b.      Kemungkinan lain adalah penggarapan kembali sebuah teks yang sudah di cetak oleh pengarang, misalnya tidak merasa puas lagi dengan ciptaanya, yang ingin menyesuaikan dengan perkembangan adanya  atau yang mau menanggapi reaksi pembaca.
c.       Ada kalanya sebuah teks cetakan diubah atas anjuran atau petunjuk penerbit atau seorang penyunting.
d.      Ada juga sebuah teks cetakan diubah karena campur tangan sensor atau pembesar, dengan alasan politik, moralis dan lain-lain.
e.      Perubahan teks cetakan berikutnya banyak disebabkan karena tujuan tertentu, misalnya sebuah karya sastra disesuaikan untuk pemakaian disekolah.


  1. Tekstologi  Naskah : Sedikit Sejarahnya
Hal ini sangat relevan sekali, khususnya dalam situasi sastra Indonesia, untuk tekstologi naskah, jadi folologi dalam arti klasik. Folologi ini di Barat mulai berkembang pada zaman humanisme disebut Petrarca (1304-1374) dan diakhir masa humanisme disebut Erasmus (1466-1536). Humanisme sangat aktif berusaha untuk menemukan kembali tradisi sastra klasik yang asli, yang selama beberapa abad di Barat praktis hilang.
Tradisi Yunani selama abad pertengahan praktis sama sekali hilang di Eropa Barat,tetapi digali kembali lewat sumber dalam bahasa Arab, tetapi yang nyata pula bagi mereka, makin banyak naskah yang ditemukan,makin besar pula variasi dalam teks yang ingin diketahui bentuk aslinya oleh para humanis. Tugas itu mereka laksanakan dengan hasil yang sangat mengagumkan, sehingga,berkat kemungkinan mencetak yang makin dikembangkan sejak pertengahan abad ke 15.
Pada abad ke 19 para filologi mulai mengembangkan metode filologi yang sungguh bersifat ilmiah karena ini zaman perkembangan ilmu pengetahuan yang modern, dengan minat pada fakta-fakta dan pembuktian ilmiah yang dalam ilmu-ilmu eksakta memberikan hasil yang demikian yang meyakinkan. Metode yang dikembangkan dalam filologi oleh Lachmann dan beberapa tokoh lainnya berpangkal pada hipotesis bahwa sebuah teks pernah tercipta dalam bentuk asli yang unik dan murni.

  1. Filologi Di Indonesia
Filologi pada abad ke 19 membawa hasil yang sangat mengesankan,edisi teks klasik juga teks abad pertengahan Eropa Barat misalnya, Jerman kuno, Inggris kuno dan lain-lain. Dalam filologi Indonesia metode Lachmann jarang diterapkan secara tepat dalam filologi Jawa, khususnya Gonda, mulai menerapkan metode ini dengan edisi Brahmanda Parana (1932).
Pada umunya para filologi yang menerbitkan teks Indonesia biasanya masih memakai  metode filologi prailmiah, dengan intuisi dan pengetahuan bahasa yang sebaik mungkin biasanya sebuah naskah dipakai sebagai legger, dasar edisi yang kemudian seperlunya diperbaiki berdasarkan perbandingan dengan naskah lain.
                     
  1. Kritik Terhadap Filologi Tradisional, Khususnya Metode Stemma
Filologi tradisional, khususnya yang berpretensi ilmiah dengan metode stemma, memperlihatkan pendekatan terhadap teks yang menekankan aspek ekspresif, mereka terutama ingin tahu niat penulis asli dan ingin memulihkan teks dalam bentuk yang diciptakan dan dimaksudkan oleh penulis asli.
Satu prinsip utama metode stemma ialah adanya satu teks purba yang asli dan utuh, yang ditulis oleh seorang penulis. Prinsip ini dapat dipahami pentingnya bagi orang yang ingin mengetahui bagaimana tulisan Aristoteles, Homeros atau Vergilius yang asli atau bagaimana firman Tuhan yang diturunkan kepada umat manusia lewat nabinya.
Hipotesis kedua yang menyadari metode stemma mengandaikan tidak ada kontaminasi pembauran naskah, menurut hipotesis ini naskah hanya diturunkan  secara vertical dari naskah yang merupakan induknya, tanpa dicampur dengan teks yang terdapat dalam naskah lain, jadi tanpa pembauran horizontal.
Prinsip ketiga yang melandasi metode stemma pun ternyata tidak mutlak, malahan sering sangat meruwetkan. Yang dimaksudkan adalah prinsip “kesalahan bersama” pokoknya sering sukar sekali, kalau tidak mustahil, untuk mengatakan  di antara dua varian mana yang salah , mana yang benar. Itulah kritik yang dilontarkan oleh Kratz terhadap teks Hikayat Muhammad Hanafiyyah sebagaimana disunting oleh Brakel, yang di anggapnya sebuah teks hibridis, naskah campuran yang pada prinsipnya tidak lebih baik daripada naskah Melayu yang dipakai oleh Brakel (Kratz, 1978,1981). Bagi Kratz konsekuensi untuk filologi Melayu jelaslah :
“Jadi, pada tingkat sekarang penyuntingan sejumlah naskah yang kecil, dengan deskripsi yang lengkap, aparatus kritikus yang layak dan bahan penyerta seperti misalnya konkordansi harus didahulukan daripada konstruksi teks yang menjadi gado-gado beberapa naskah dengan deskripsi yang selektif…. Sebab pada dasarnya naskah biasanya adalah saksi dengan wibawa sendiri dari sebuah tradisi yang khas dan karena itu tidak pantas dicampurtangani secara semau-maunya).
                                                                     
  1. Variasi Naskah : Korupsi atau Kreasi
Dalam kalimat terakhir ini terungkap aspek lain dari pergeseran minat dalam filologi modern, mungkin keberatan utama terhadap metode ini menurut pendekatan modern justrulah tekanan pada teks asli sebagai tujuan utama penelitian filologi. Dalam pendekatan lama segala sesuatu dalam  sebuah naskah yang menyimpang dari teks yang dianggap asli dipandang sebagai korupsi yang oleh filolog harus disingkirkan. Tetapi dalam filologi modern variasi naskah justru sering kali dilihat sebagai kreasi, yaitu teks disesuaikan oleh penyalin dengan perubahan dalam lingkungan sosio-budaya dimana salinan itu harus berfungsi menurut harapan pembaca yang menjadi sasaran naskah baru itu.
Contoh semacam ini masih banyak diberikan, sebagai kasus lain  yang cukup menarik dapat disebutkan diskusi ilmiah mengenai penafsiran versi babad-babad Jawa yang berbeda-beda, yang beberapa tahun lalu diadakan antara Ricklefs dan Day (Day, 1978 ; Ricklefs, 1979 ). Ricklefs berpendapat selalu ingin menelusuri bentuk asli cerita-cerita sejarah yang terkandung dalam berbagai versi babad, yang ingin dia telusuri mana versi yang tertua atau asli, mana versi yang purba. Sedangkan Anthony Day mendekati variasi teks babad dengan pandangan yang lain sekali, dia lebih optimis menekankan nilai positif variasi babad sebagai kreasi. Ia juga berpendapat bahwa setiap babad mewujudkan teks baru, yang diciptakan oleh seorang penyalin atau pujangga yang sedikit banyaknya kreatif
Di sini bukanlah masalah siapa yang benar dan siapa yang salah, Ricklefs atau Day. Yang terpenting untuk pembicaraan justru dua visi tentang variasi teks sebagai sesuatu yang di temukan dalam sejarah teks manapun.
                                                                                        


Bab III
Penutup

Kesimpulan
Dari penjelasan mengenai teks sastra sebagai variabel dalam model semiotic dapat disimpulkan bahwa :
  • Pertama, bahwa dengan pendekatan modern, janganlah menganggap bahwa metode lama sam sekali tidak bermanfaat lagi. Karena untuk teks tertentu, dengan tujuan tertentu metode stemma masih tetap digunakan dan bermanfaat dengan hasil yang baik.
  • Kedua, Bahwa kesetiaan penyalin pada induknya tidak sama untuk berbagai jenis dan ragam teks.
  • Ketiga, Tidak semua nskah yang ada misalnya dari teks Indonesia tradisional sebagai sumber pengetahuan karya sastra, karena masih banyak ditemukan kesalahan-kesalahan serta penyimpangan yang terjadi seperti salah cetak, revisi ulang terhadap teks oleh penulis,adanya campur tangan pihak lain untuk mengubah teks cetakan untuk tujuan tertentu.
  • Di Indonesia sendiri maslah tekstologi untuk sastra tradisional tidak terlepas dari masalah sastra lisan.Karena memiliki relevansi yang sangat kuat antara sastra lisan dansastra tulis yang dipengaruhi oleh tradisi sastra lisan danfungsi sastra sebagai performing art.

Daftar Pustaka
A.Theeow, Sastera dan Ilmu Sastera,